Feeds:
Posts
Comments

Pikir-pikir

Terlalu Sadis Caramu

Menjadikan Diriku
Pelampiasan Cintamu
Agar Dia Kembali Padamu
Tanpa Perduli Sakitnya Aku

Tega Niannya Caramu
Menyingkirkan Diriku
Dari Percintaan Ini
Agar Dia Kembali Padamu
Tanpa Perduli Sakitnya Aku

Semoga Tuhan Membalas Semua Yang Terjadi
Kepadaku Suatu Saat Nanti
Hingga Kau Sadari Sesungguhnya Yang Kau Punya
Hanya Aku Tempatmu Kembali
Sebagai Cintamu

Hanya Aku Tempat Mu Kembali

Semoga Tuhan Membalas Semua Yang Terjadi
Kepadaku Suatu Saat Nanti
Hingga Kau Sadari Sesungguhnya Yang Kau Punya
Hanya Aku Tempatmu Kembali
Sebagai Cintamu

Hingga Kau Sadari Sesungguhnya Yang Kau Punya
Hanya Aku Ooo…
Sebagai Cintamu

 *sadis – Afgan

Tidak sengaja mendengar lagu ini beberapa waktu lalu. Kemudian saya menyimak liriknya. Sudah sering mendengar sebelumnya sih, tapi sambil lalu saja. Saya pikir liriknya lucu juga; merasa disakiti, marah, tapi juga berharap yang menyakiti sadar dan mungkin kembali. Tapi begitulah kenyataannya, kadang orang terjebak menambal luka dengan apa yang menyebabkan terluka sambil berharap hasil yang berbeda. Mungkin semacam ungkapan orang, manusia terkadang menjadi bodoh bila menyangkut rasa. Tapi satu hal yang lain adalah jangan pernah menyakiti orang lain hanya karena kita sedang sakit hati; kalau tahu sesuatu menyakitkan, kenapa harus menyakiti orang untuk mencari pengakuan dari orang lain? Semua orang berhak bahagia, saya pikir begitu. Tapi semoga setiap kita selalu ingat untuk bertanya, bahagia macam apa yang kita cari dengan menyakiti dan mengorbankan orang lain. 

Kalau lagi sial jadi yang disakiti, lebih baik berusaha memaafkan saja. Membenci dan marah berkepanjangan cuma membuat beberapa orang makin jumawa merasa dirinya demikian penting dalam hidup seseorang. Beberapa juga merasa lebih ringan rasa bersalahnya karena dibenci. Jadi buat apa? Berikan saja porsi yang sesuai untuk orang-orang yang memang ingin ada dan bersedia ada. Beberapa orang memang tidak bisa menghargai itu, seberapa keras pun kamu berusaha. Mungkin dengan demikian, kita tahu, beberapa orang memang tidak layak kita beri porsi. Katanya, tidak ada yang punya daya sedemikian hebat untuk menutupi kehendak hati. Jadi, biarkan saja orang memilih untuk datang dan pergi. Apa yang penting mungkin hanya bagaimana supaya kita bukan menjadi pihak yang banyak menyakiti ataupun merugikan. 

Mungkin begitu. Karena toh manusia tidak pernah terlalu pintar untuk belajar tentang hidup.

simplified

Sederhana saja,
tak perlu lah kita beradu siapa yang memiliki rasa lebih besar
Sekian tumpuk kecupan,
sederet pelukan,
aku rasa sudah cukup mewakili kata-kata yang tak terbahasakan
Tak ada yang baik dari sebuah pertandingan ego,
karena rasa bukan tentang milik siapa yang lebih besar,
tapi siapa yang bertahan dan menjaga walau dalam diam
Bisa saja aku salah,
tapi setidaknya itu sebenar-benarnya rasa menurutku
Mengujar tanpa bahasa,
berteriak tanpa pekik,
menjadi ada tanpa harus riuh.
Dalam setiap genggam yang bersambut,
kecupan yang menyambut,
kita pulang
Sederhana saja

Protected: you..

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: 26

This content is password protected. To view it please enter your password below:

tentang ujar

ujar pembohong tak akan pernah genap
mungkin dia sendiri sedang ragu
di saku yang mana dia meletakkan kejujuran

tak perlu kecewa,
kamu tahu seharusnya tak perlu berharap

kompetisi

Jangan berkompetisi dengan orang lain. Kita hanya perlu berkompetisi dengan diri sendiri; menjadi manusia yang lebih baik setiap hari.

Beberapa orang begitu bangga mengalahkan orang lain. Beberapa orang mengejar prestasi dan berkompetisi; katanya hidup menjadi kurang tantangan tanpa kompetisi. Tidak ada yang buruk tentang kompetisi yang sehat, apa-apa yang memotivasi diri untuk belajar dan terus maju. Tapi, bukankah tidak setiap orang harus menempuh jalan yang sama? Bila kita sibuk berkompetisi dengan orang lain, tidakkah pada akhirnya kita hanya akan mengikuti ke mana sebagian besar orang melangkah?

Katanya setiap orang memiliki garis hidupnya masing-masing. Tidak perlu sibuk berkompetisi dengan orang lain, cukuplah fokus mencari apa yang menjadi tujuan besar kita dan mencoba untuk mewujudkannya. Karena terkadang, siapa yang pertama bukan yang utama; jangan sampai terjebak membandingkan diri dengan orang lain terus-menerus. Apa yang penting mungkin kesadaran untuk terus belajar dan memoles diri menjadi lebih baik. Terus menantang diri untuk menembus batas-batas yang ada. Karena katanya tidak ada batasan yang terlalu tinggi.

*sekadar catatan pengingat hari

my way

Aku bisa melontarkan banyak hal. Tapi aku memilih menahannya di kepala, membungkam mulut. Diam.

Biarkan saja mereka berasumsi. Katanya, bukan urusanku apa yang dunia lihat tentangku; tapi, selalu urusanku tentang bagaimana aku melihat dunia.