Feeds:
Posts
Comments

Life

Life might be unfair. Sometimes you look at others’ lives and think how lucky they are. But, do not be bitter; be better. Stop comparing your life with others’ because everyone has their own struggles. She might be pretty, but underwent abusive relationship. He might be wealthy, but his parents are very demanding and he is not happy. She might live simply, but has so much love around her. He might be wealthy, handsome, smart, and successful in his business; but, we do not know if he is happy with his life. 

Stop comparing, stop being envious of others’ lives. Let’s celebrate life, our own lives. If there was a reason to cry, believe that you will have a reason to laugh and being grateful. We might think that life is unfair; perhaps you cursed that shitty days on your life; but, we grow stronger because of those hard days. 

In my humble opinion; us, human, is such an egoistic and demanding creatures. We always want the best for us, for our loved ones. Sometimes, we forget to cherish those little moments; simple happiness that curved a smile on our faces. So many times, we were stumbled upon those hurdles and pain; forgetting tons of blessings which we received. 

Life might be unfair. But, as long as there is a reason to be grateful, as long as there is something to be shared for those in needs, as long as you can laugh and smile, we should celebrate life, shouldn’t we? 

Advertisements

us

Bahasa saya tidak akan pernah sama serupa dengan kamu. Mungkin ada banyak waktu saya memilih diam, alih-alih mengeluhkan sederetan gerutu. Tapi kamu tahu, ke mana semuanya menuju.

Saya pikir sesederhana itu. Tak perlu janji yang megah. Cukup sekedar kesediaan untuk saling diam dan mendengarkan. Kerendahan hati untuk mengatakan tidak tahu. Bertanya ketika tidak mengerti dan tidak saling berharap berhadapan dengan cenayang. 

Asumsi tak pernah jadi bumbu yang menarik dalam komunikasi mana pun. Memastikan saya dan kamu memahami dengan makna yang sama sudah cukup lah. Sederhana, tanpa perlu banyak tuduhan dan tudingan. Karena kita? Cuma manusia yang perlu saling belajar. Saling jujur akan apa yang diinginkan. 

Semoga kalau satu hari apa yang dipercaya kembali patah, sudah ada tempat pulang yang lain…

Karena terkadang sesuatu tak punya rute kembali dan apa yang sudah tergores akan selalu berbekas. 

Random thought

Saya pernah berpikir, mungkin apa yang saya lakukan tidak cukup. Entah itu tidak cukup hebat, tidak cukup baik, atau yang lainnya. Saya pikir saya begitu membosankan dengan segala rutinitas dan keribetan saya akan hal-hal yang kecil.

Saya yang bisa tiba-tiba terganggu atas ujaran atau perlakuan yang saya pikir tidak sepantasnya. Namun, saya pikir itu salah saya. Saya menjumput setiap apa yang saya pikir baik itu sebagai suatu kekakuan, rutinitas yang membosankan, dan detail yang tidak perlu.

Tapi, saya mencoba merunut. Mengurutkan kembali potongan di sana-sini. Saya pikir pada akhirnya bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menilai perlakuan orang lain terkadang adalah bagaimana kita menilai diri kita.

Terkadang kita tidak puas akan segala tindakan orang lain karena ada ketidakpuasan pada diri sendiri. Kadang apa yang kita sampaikan tidak bisa diterima sebagai masukan dan dipandang  sebagai celaan karena dibumbui asumsi penerima sendiri. 

Saya belajar bahwa saya tidak bisa mengubah hal itu. Bahwa terkadang orang mengatakan saya tidak pernah puas karena sesungguhnya dirinya sendiri yang tidak puas akan apa yang dia punya. Bahwa terkadang, tidak semua orang punya waktu mendengarkan dan mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Bahwa terkadang ego mengalahkan keinginan untuk mencoba mendengarkan tanpa berasumsi, mencoba mengerti alih-alih merasa tahu dan mengerti. 

Jadi, saya belajar bahwa tidak semua yang kita percaya akan selamanya bisa dipercaya. Saya belajar bahwa tidak apa-apa mengatakan apa yang kita percaya. Bahwa apa yang kasar akan tetap kasar, apa yang baik akan tetap baik, dan perilaku baik akan berbalik setimpal. 

Mungkin akan ada yang lebih suka dengan segala pahit. Akan ada banyak orang yang mengujarkan keluh kesah dan mengutuki hidup. Ada pula mereka yang mengatakan segala caci-maki dan pesimis akan arti hidup. Tapi apa yang perlu kita jaga adalah sekerlip percaya, segenggam sikap positif, dan seutas kewarasan untuk melihat apa yang bisa disyukuri. 

Karena yang hitam akan melumurimu dengan jelaga. Bahkan kadang tanpa sadar, kita terhisap dalam pusaran negatif dan segala pahit yang terlontar tentang hidup. 

Pada akhirnya, terkadang memang beberapa orang tercermin dari kumpulannya. Entah mereka yang berpesta dalam pahit atau mereka yang merayakan hidup dengan menjumputi arti dalam hari-harinya. 

Tertawakan saja segalanya, lalu berjalanlah perlahan. Selalu ada yang bisa disyukuri dalam setiap hitam yang terbentang. Kadang kita “buta” karena terlalu terbiasa dalam kelam. Mungkin begitu. Mungkin…Karena beberapa orang bahkan bisa bengkok lidah hanya karena siapa yang ada di sampingnya. Lucu tapi memang begitu adanya. 

Work 

Zaman sekarang, kecuali di lingkungan masyarakat adat tertentu, saya pikir sistem kasta sudah tidak umum digunakan. Tak usahlah menyebut kasta, melabel orang karena latar belakang ataupun ras dan suku bangsanya, mungkin bisa membuat orang dibilang melakukan diskriminasi. Belum lagi para pegiat HAM yang kerap menyerukan persamaan hak dan derajat. Saya sendiri lebih suka menamakannya memanusiakan manusia. 

Entah apapun suku Anda, entah siapa pun tuhan yang Anda sembah, entah bahasa mana yang Anda ujar, manusia sesungguhnya sama bukan? Diciptakan oleh Pencipta, dilahirkan oleh ibunya, dan hidup karena roh yang ditiupkan pada raganya. 

Namun, sekian waktu di tempat kerja yang baru ini saya makin menyadari betapa lucunya hidup ini. Ketika orang di luar sana banyak berteriak tentang hak asasi manusia, tentang persamaan hak dan martabat sebagai manusia; nyatanya dalam hal bisnis dan ekonomi, manusia tetap dikotak-kotakkan. 

Label staf membuat orang memiliki hak atas akses terhadap fasilitas kantor yang tidak didapat oleh mereka yang dilabeli tenaga kontrak. Label manajer membuat orang mendapatkan fasilitas rumah dan kendaraan. Label supervisor membuat orang berhak mendapatkan kamar tidur sendiri dengan ranjang spring bed dan fasilitas laundry kilat. Sementara mereka yang dilabel staf harus cukup puas tidur berdua atau berempat dengan fasilitas laundry yang sering membuat pakaian mereka hilang entah ke mana.

Lucu bukan? Bagaimana penghuni dunia yang sama, yang mengatakan tidak suka kepada orang-orang yang sok karena merasa menduduki posisi penting, menerima pengkotak-kotakan dan menginginkan posisi lebih baik agar mendapatkan fasilitas lebih? Tapi kadang begitulah manusia. Mencerca sesuatu ketika tidak memiliki. Namun, lupa diri ketika dirinya memiliki. 

Mungkin itu mengapa, saya pikir tidak baik diam di satu tempat ketika tak ada pohon yang lebih tinggi. Karena manusia kadang terlalu lemah untuk menjadi mudah congkak, lupa memandang bahwa masih banyak yang ia tidak tahu. Pun bahwa dulu dia pernah berada di antara rumputan, yang diinjak dan dilewati begitu saja. 

Mungkin kembali lagi kuncinya ada pada bersyukur. Mensyukuri apa yang ada hari ini, alih-alih bergabung dengan para penggerutu yang hanya menggumamkan ketidakpuasan tanpa beranjak. Pun tidak terkurung di antara mereka, yang membiarkan rupiah melabeli dirinya. Karena bukankah seharusnya kita bekerja untuk hal-hal yang lebih besar daripada uang? Mengapa membiarkan diri berpikir cukuplah ini tugas saya dan saya tidak mau mengerjakan yang lain karena saya tidak dibayar untuk itu? Tidak salah, namun selama ada hal yang bisa kita pelajari, mengapa tidak? Karena saya pikir pekerjaan bukan hanya tentang rupiah, tapi juga apa yang bisa kita dapatkan di luar nominal di rekening tabungan. Mungkin begitu. Mungkin.

Di balik jubah putih, 

dia menyusuri lorong berdinding putih

Di antara bubungan doa paling tulus

dari si sakit dan si sehat

Di antara kecup dan peluk terakhir

dari yang ditinggalkan dan meninggalkan

Di balik jubah putih,

dia berdoa dalam hati

memohon agar diberi hikmat akan jiwa-jiwa di depan mata

Di balik jubah putih,

dia bertanya sampai kapan koin-koin rupiah harus menentukan harga nyawa manusia?

Di balik jubah putih,

dia melihat si kaya membeli waktu

si miskin meratap dalam doa dan pasrah pada Yang Kuasa

Di balik jubah putih,

dia bertanya sampai kapan rupiah menentukan siapa yang berhak mengejar ilmu untuk menyentuh jiwa-jiwa manusia itu?

Di balik jubah putih,

dia berdoa semoga pikir tak cepat berkarat, pun hati tak lekas menjadi padam,

karena manusia hanya alat,

dan hati adalah pelita penuntun bagi mereka di balik jubah putih untuk menolong nyawa-nyawa di depan mata.

Di balik jubah putih, 

di antara bubungan doa, isak tangis, dan pencarian harapan, 

dia berjalan menyusuri lorong putih sambil berdoa…

“Tuhan, aku hanya manusia. Pakailah aku sebagai alat-Mu”. 

Di antara gundah dan gelisah akan langkahnya, 

di balik jubah putih dia berdoa, memohon agar sekali lagi dituntun menolong nyawa di depan matanya.

Barak, 14 April 2018

random

Berhentilah meraih tangan yang enggan kau genggam.

Berhentilah menggapai jemari yang enggan kau raih.

Berhentilah menunggu dia yang berjalan pergi.

Pilihlah dirimu, selalu…

Cintailah dirimu lebih…

Pada waktunya akan ada tangan yang menggenggam sama eratnya denganmu,

jemari yang menggapai sama rindunya dengan milikmu.

Dia yang memilih melihat utuh, alih-alih sepotong kelam dari dirimu.

Lalu di meja situ, dia berkisah tentang lalu dan kini…

dengan senyum dan tawa yang berbalas, dia tahu.

Selamat hari kasih sayang! 

Jangan lupa menyayangi diri.