Feeds:
Posts
Comments

Saya biarkan rasa itu ada

Walau saya tahu ia mungkin tak tinggal selamanya

Saya biarkan senyum itu terkembang

Walau saya tahu ia mungkin akan berubah menjadi sedu sedan

Saya biarkan semuanya berjalan

Walau saya tahu akan ada waktu untuk berhenti

Saya biarkan diri saya mengingini kamu

Walau saya tahu akan ada waktu untuk melepaskanmu

Saya biarkan logika saja sejenak mati

Selama rasa ini berjuang bertahan hidup

Biar saya dan kamu terkungkung dalam tanya tanpa jawab

Berkelit dalam rasa

Menutup mata pada fakta yang tak terjawab

Bila kamu sudah tak ingin

Biarkan saya menikmati ini sebentar lagi

Kali ini sunyi yang menjawab

*tulisan lalu

Ada

Berjalanlah sampai jauh, sampai mungkin yang kamu hadapi hanya tembok. Lalu jangan berhenti. Cobalah panjat tembok itu.

Sekali…Dua kali…Tiga kali.

Lagi…Lagi…dan lagi.

Lalu ketika kamu lelah, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk ada di situ. Berdiri dan mencoba mendorong kamu dari bawah untuk melompati tembok itu. Jadi, cobalah. Saya ada.

Profesi

Bagi saya, pekerjaan hanyalah profesi. Saya ingin menjadi diri saya ketika saya pulang ke rumah. Saya akan menikmati percakapan-percakapan kasual tentang kehidupan, candaan, cerita tentang keseharian dan lontaran-lontaran konyol. Tidak, bukan berarti saya tidak suka orang bertanya tentang sakit-penyakitnya ataupun meminta saran tentang obat apa yang perlu diminum. Saya menghargai kepercayaan mereka untuk bertanya kepada saya. Tapi saya juga menghargai orang-orang yang memperlakukan saya sebagai seorang teman; melihat saya sebagai seorang Dee, bukan seorang dokter Dee.

Saya menghargai mereka yang melihat saya tanpa gelar di depan nama saya. Mereka yang datang memang untuk berteman dan tidak berkutat menderetkan berbagai pertanyaan mereka kepada saya atau menyodorkan cuplikan artikel ini dan itu untuk saya jelaskan. Saya menyukai mereka yang datang dan duduk untuk sekedar berbagi cerita hari. Membiarkan saya belajar dari apa yang mereka bagi. Mereka yang datang dan membagi potongan-potongan ceritanya. Mereka yang datang membagi potongan suka dan lukanya. Mereka yang diam dan tertawa bersama saya untuk kepingan-kepingan lelucon dangkal yang terlontar. Mereka yang berbagi ketika saya bertanya, tanpa berbalik bertanya kepada saya dan mengharuskan saya tahu tentang segalanya.

Memang tanpa diminta pun, saya pasti menyodorkan saran ini dan itu bagi mereka yang saya anggap penting. Untuk mereka yang penting, saya justru menuntut untuk benar-benar tahu bagaimana kondisi mereka. Saya pun dengan senang hati menjawab segala pertanyaan yang terlontar selama itu bisa membantu orang lain. Tapi terkadang saya hanya tidak ingin menjadi “pembicara” dalam diskusi penyakit si A ataupun si B. Terkadang saya tidak ingin diharuskan tahu segalanya dan harus menjawab segala rentetan pertanyaan yang diajukan. Terkadang saya menjadi jengkel karena dipaksa memberikan jawaban segera dan mendapat gerutuan ketika tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Hal-hal itu yang membuat saya terkadang menjadi bertanya, sebenarnya mereka mau saya sebagai manusia atau ensiklopedia?

Bagi saya, gelar itu hanyalah atribut dan orang-orang yang dekat dengan saya, seharusnya cukup tahu saya lebih dari atribut itu. Mungkin begitu.

*Sedang lelah dengan rentetan pertanyaan bertubi di tengah malam dan orang-orang yang datang untuk mengajukan cuplikan artikel ini dan itu.*

Lelap

Saya tidak menginginkan episode kesekian. Saya lelah. Lelah dan hanya ingin tidur yang panjang. Tidur dalam lelap. Lelap yang paling dalam. Dalam sampai ke dasar sana. Mungkin…mungkin di sana ada sesuatu yang akan membangunkan saya kembali. Mungkin juga tidak. Entah. Jangan lagi, jangan hari ini. Saya lelah.

Isyarat

Ini isyarat yang kesekian. Entah kamu tahu, entah kamu lupa, entah kamu tidak tahu. Tapi kalau kamu tanya apa yang saya mau, saya ingin kamu tahu. Saya rindu. Hanya itu.

*Lalu ujar tak pernah putus.

Older Posts »