Feeds:
Posts
Comments

Akankah

Akankah kamu ada di setiap keberadaan? Akankah kamu datang ketika tidak alasan? Akankah kamu mencari ketika bahkan kamu sudah menemukan? Akankah kamu tinggal sekalipun ada sekian alasan untuk pergi? Akankah kamu membutuhkan sekalipun kamu sudah memiliki? Karena bukankah seharusnya rasa itu bicara tentang apa yang ada di sana? Lalu terkadang bukti itu bicara lebih keras, memutarkan kata yang berpusar di kepala. Lalu akankah kamu berhenti? Akankah kamu menyerah?

Hanya segumpal rasa. Semoga tidak pernah kalah.

This post is password protected. To view it please enter your password below:

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Karena saya tidak pernah ingin menukar kenang. Tidak juga melego rasa untuk sejumput lupa. Saya hanya percaya apa yang ada akan ada sampai pada waktunya. Apa yang tiada mungkin tidak akan pernah jadi ada. Jadi saya memilih berteman dengan sunyi, mencintai dengan bisu dan ketiadaan. Karena di setiap sudut kamu sendiri, kamu tahu saya ada. Dalam setiap kata yang tidak terucap, dengan setiap rasa yang diredam, saya bersuara. Lalu, saya biarkan segalanya mengalir, menuju ke mana dia berujung, di mana muara berada. Karena yang saya punya hanya kejujuran, apa yang saya punya, apa yang saya rasa. Sederhana. Mungkin begitu.

25 April 2012

A Little Faith

The water is stopped and the riverbed cleansed,

so that purer water might flow.

The flesh is cut open to draw out the arrow,

so that fresh skin might heal the wound.

(Unearthing the Treasure – Jalal al-Din Rumi)

 For every pain will teach you to be stronger and every tears promise you happiness. You’ll be alright at the time, just believe.

Have a little faith.

25 April 2012

Manusia

Manusia adalah makhluk sosial, kalimat yang sudah dipelajari sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Pernyataan itu membuat kita, manusia ini, memerlukan orang lain untuk hidup. Hal yang dulu dijelaskan oleh guru-guru di kelas dengan permisalan tentang nasi di piring yang membutuhkan kerja dari tangan petani dan juru masak.

 Benar, untuk hal sesederhana nasi di piring saja, kita membutuhkan orang lain. Tapi saya pikir, mungkin Tuhan membuat kondisi semacam itu juga karena manusia tidak pernah puas. Orang terkadang buta akan apa yang dia punya, hingga dia melihat orang lain tidak memiliki apa yang dia miliki. Orang terkadang terlalu sibuk mendongak ke atas dan berteriak kepada Yang Maha atas apa yang dia tidak punya, lupa bahwa banyak orang yang mendamba secuil saja dari apa yang dimilikinya.

 Mungkin Dia ingin manusia ingat untuk membuka mata, maka Dia menderetkan masing-masing orang dengan segala keunikannya. Mungkin Dia ingin manusia ingat untuk bersyukur atas apa yang dia punya, setiap kali dia melihat masih banyak orang lain yang tidak punya apa yang ada pada dirinya. Kalau manusia hidup sendiri, kepada siapa dia akan mengukurkan berkat yang dia terima? Kalau manusia hidup sendiri, akankah dia ingat akan makna cukup? Karena terkadang cukup itu adalah hal tersulit yang diucap manusia. Karena terkadang mengeluh itu lebih mudah daripada mengucap syukur. Karena terkadang perkara kecil terlupakan oleh pesona perkara yang besar. Mungkin begitu.

25 April 2012

Saya tidak tahu apa yang mesti saya tuliskan. Berkali-kali saya mencoba menderetkan kata, namun akhirnya dibuang dari kepala. Larik-larik kalimat yang luruh sebelum sempat terangkai menjadi paragraf. Saya tidak tahu. Tapi saya hanya ingin menulis. Tulisan yang kesekian, hanya ingin kamu tahu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.