May 4, 2012 by futuredoctor
Manusia adalah makhluk sosial, kalimat yang sudah dipelajari sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Pernyataan itu membuat kita, manusia ini, memerlukan orang lain untuk hidup. Hal yang dulu dijelaskan oleh guru-guru di kelas dengan permisalan tentang nasi di piring yang membutuhkan kerja dari tangan petani dan juru masak.
Benar, untuk hal sesederhana nasi di piring saja, kita membutuhkan orang lain. Tapi saya pikir, mungkin Tuhan membuat kondisi semacam itu juga karena manusia tidak pernah puas. Orang terkadang buta akan apa yang dia punya, hingga dia melihat orang lain tidak memiliki apa yang dia miliki. Orang terkadang terlalu sibuk mendongak ke atas dan berteriak kepada Yang Maha atas apa yang dia tidak punya, lupa bahwa banyak orang yang mendamba secuil saja dari apa yang dimilikinya.
Mungkin Dia ingin manusia ingat untuk membuka mata, maka Dia menderetkan masing-masing orang dengan segala keunikannya. Mungkin Dia ingin manusia ingat untuk bersyukur atas apa yang dia punya, setiap kali dia melihat masih banyak orang lain yang tidak punya apa yang ada pada dirinya. Kalau manusia hidup sendiri, kepada siapa dia akan mengukurkan berkat yang dia terima? Kalau manusia hidup sendiri, akankah dia ingat akan makna cukup? Karena terkadang cukup itu adalah hal tersulit yang diucap manusia. Karena terkadang mengeluh itu lebih mudah daripada mengucap syukur. Karena terkadang perkara kecil terlupakan oleh pesona perkara yang besar. Mungkin begitu.
25 April 2012