Berapa kali kamu jatuh cinta? Indahkah rasanya? Apakah hatimu serasa dipenuhi bunga warna-warni? Apakah harimu seperti selalu melihat pelangi? Ataukah justru kami merasakan nyeri yang mendalam? Karena ia tak mampu kau raih dan begitu jauh dari jangkauan?
Ketika kamu mengatakan itu cinta, mengapa kamu yakin itu cinta? Ketika kamu memilihnya, benarkah kamu yakin akan dirinya? Ketika kamu memiliki hatinya, yakinkah kamu mampu menjaganya? Ketika kamu katakan akan setia selamanya, mampukah kamu menjalaninya? Ketika kamu bersamanya, adakah hatimu untuknya?
Saya hanya bertanya karena hati selalu tahu kemana dia ingin berlabuh, tetapi manusia terkadang terlalu egois untuk mendengar kata hati. Namun ada kalanya hati terlalu menggebu, hingga ia tak mau berkompromi dengan logika. Merasa segalanya adalah benar atas nama cinta.
Saya berpikir cinta bukanlah sekedar kata-kata. Bukan sesuatu yang bisa dipilih dan kemudian ditinggalkan begitu saja. Ketika mencinta, logika juga perlu diberi kesempatan bersuara. Ketika mencinta, kita tetap harus sadar bahwa dia tidak berdiri sendiri. Cinta berdiri ketika ada penghargaan, ada kekaguman, ada kasih, ada maaf, dan ada kesetiaan.
Saya berpikir, hanya berpikir…Karena sesungguhnya saya masih belajar tentang cinta.